Di era digital seperti sekarang, iklan bukan cuma soal pasang spanduk di pinggir jalan atau spot iklan di TV. Dunia periklanan sudah bertransformasi ke ranah digital, dan salah satu bentuk yang paling sering kita temui adalah Display Ads.
Tapi, sebenarnya apa itu Display Ads? Kenapa bisnis harus menggunakannya?
Singkatnya, Display Ads adalah iklan berbasis visual yang muncul di berbagai platform digital, mulai dari website, aplikasi, hingga media sosial. Bentuknya pun beragam—bisa berupa banner, video, bahkan iklan interaktif yang bisa di-scroll atau diklik.
Kenapa bisnis perlu memahami Display Ads?
Sederhana: karena audiens kita ada di dunia digital. Hampir semua orang menghabiskan waktu mereka di internet, dan Display Ads memungkinkan kita menjangkau mereka dengan cara yang lebih menarik dibandingkan iklan berbasis teks biasa.
Menurut laporan dari Statista, pengeluaran global untuk Display Ads pada tahun 2024 diperkirakan mencapai lebih dari $226 miliar, menunjukkan betapa besarnya potensi iklan ini dalam strategi digital marketing.
Manfaat utama Display Ads dalam strategi pemasaran digital:
- Meningkatkan Brand Awareness – Iklan yang muncul di berbagai platform bisa membuat brand kita lebih dikenal.
- Menjangkau Audiens yang Lebih Luas – Tidak terbatas hanya pada pencarian, tetapi juga bisa tampil di situs-situs yang sering dikunjungi target market kita.
- Mendukung Strategi Retargeting – Bisa menampilkan iklan ke orang yang sudah pernah mengunjungi website kita, meningkatkan peluang konversi.
Jadi, kalau kalian masih ragu apakah Display Ads cocok untuk bisnis atau tidak, jawabannya simpel: coba dulu, pelajari performanya, dan optimalkan strategi berdasarkan data!
Daftar Isi
Pengertian Display Ads
Sebelum kita membahas lebih jauh tentang strategi dan cara kerja Display Ads, kita harus paham dulu apa sebenarnya Display Ads itu.
Apa Itu Display Ads?
Display Ads adalah bentuk iklan digital yang berbasis visual dan muncul di berbagai platform online. Biasanya, iklan ini muncul dalam bentuk gambar, video, atau elemen interaktif di website, aplikasi, dan media sosial.
Berbeda dengan iklan berbasis teks (seperti Search Ads yang muncul di Google saat seseorang mencari sesuatu), Display Ads lebih fokus pada daya tarik visual. Tujuannya bukan hanya menarik perhatian, tapi juga membangun brand awareness dan meningkatkan engagement audiens.
Apa Bedanya Display Ads dengan Search Ads?
Banyak yang masih bingung membedakan Display Ads dan Search Ads. Sebenarnya, perbedaannya cukup jelas:
Fitur | Display Ads | Search Ads |
Bentuk | Gambar, video, animasi | Teks berbasis keyword |
Lokasi Muncul | Website, aplikasi, media sosial | Halaman hasil pencarian Google |
Tujuan Utama | Brand awareness, engagement | Lead generation, direct conversion |
Cara Kerja | Ditampilkan ke audiens yang ditargetkan | Muncul ketika pengguna mencari dengan kata kunci tertentu |
Singkatnya, Display Ads cocok untuk menarik perhatian audiens yang belum mengenal brand kita, sementara Search Ads lebih efektif untuk menangkap orang yang sudah memiliki niat beli.
Contoh Bentuk Display Ads yang Umum
Kita pasti sering melihat berbagai bentuk Display Ads saat berselancar di internet, tetapi mungkin tidak menyadarinya. Beberapa contoh paling umum dari Display Ads adalah:
- Banner Ads – Iklan berbentuk banner yang muncul di bagian atas, samping, atau tengah konten website.
- Video Ads – Iklan berbasis video yang muncul di YouTube atau dalam artikel di website berita.
- Native Ads – Iklan yang menyatu dengan konten website, sehingga terlihat lebih alami.
- Rich Media Ads – Iklan interaktif dengan animasi, efek hover, atau bahkan mini-games.
Menurut data Google, iklan visual seperti Display Ads bisa meningkatkan brand recall hingga 80% lebih tinggi dibandingkan iklan berbasis teks. Jadi, ini bisa jadi strategi yang efektif buat membangun awareness dan engagement dengan audiens kita.
Cara Kerja Display Ads
Display Ads bukan sekadar gambar atau video yang muncul di internet. Ada sistem kompleks di belakangnya yang memastikan iklan ini muncul di tempat yang tepat, kepada orang yang tepat, dan pada waktu yang tepat.
Bagaimana Iklan Display Ditampilkan di Berbagai Platform?
Ketika kita menjalankan kampanye Display Ads, iklan tersebut bisa muncul di berbagai platform, seperti:
- Website yang menjadi bagian dari jaringan iklan (misalnya Google Display Network).
- Aplikasi mobile, seperti game atau aplikasi berita yang menampilkan iklan dalam bentuk banner atau video.
- Media sosial, seperti Facebook, Instagram, dan TikTok, yang menawarkan format iklan berbasis gambar dan video.
Sistem di belakang Display Ads bekerja dengan menargetkan audiens berdasarkan data dan perilaku mereka di internet. Jadi, bukan sekadar muncul secara random, tapi lebih ke arah “iklan yang tepat untuk orang yang tepat”.
Google Display Network (GDN) dan Programmatic Advertising
Sebagian besar iklan display berjalan melalui Google Display Network (GDN), yang mencakup lebih dari 2 juta website, aplikasi, dan video. Dengan menggunakan GDN, pengiklan bisa menjangkau hingga 90% pengguna internet di seluruh dunia (Google, 2024).
Selain GDN, ada juga programmatic advertising, sistem otomatis yang menempatkan iklan secara real-time di berbagai platform berdasarkan data audiens. Dengan teknologi ini, iklan bisa langsung disesuaikan dengan minat, perilaku, dan demografi pengguna, sehingga lebih relevan dan efektif.
Mekanisme Bidding dan Cara Pengiklan Menargetkan Audiens
Agar iklan kita muncul, kita harus ikut “lelang iklan” (bidding). Ada tiga metode bidding utama dalam Display Ads:
- CPC (Cost Per Click) – Bayar setiap kali seseorang mengklik iklan kita. Cocok untuk kampanye yang fokus pada traffic atau konversi.
- CPM (Cost Per Mille) – Bayar per 1.000 tayangan iklan. Cocok untuk brand awareness.
- CPA (Cost Per Acquisition) – Bayar hanya jika terjadi konversi, seperti pembelian atau pendaftaran.
Selain bidding, kita juga bisa menargetkan audiens berdasarkan:
- Demografi – Usia, jenis kelamin, lokasi, dan perangkat yang digunakan.
- Minat dan Perilaku – Situs yang sering dikunjungi, topik yang sering dibaca, atau aplikasi yang digunakan.
- Retargeting – Menargetkan orang yang sudah pernah berinteraksi dengan bisnis kita sebelumnya.
Dengan kombinasi strategi bidding yang tepat dan targeting yang presisi, Display Ads bisa menjadi alat yang sangat powerful untuk menarik audiens dan meningkatkan konversi.
Jenis-Jenis Display Ads
Display Ads bukan hanya sekadar gambar yang muncul di website. Ada berbagai format iklan yang bisa kita gunakan tergantung pada tujuan kampanye, target audiens, dan platform yang digunakan. Berikut beberapa jenis Display Ads yang paling umum:
1. Banner Ads
Iklan berbentuk gambar statis atau animasi yang muncul di berbagai bagian website, seperti header, sidebar, atau di tengah konten. Ini adalah bentuk Display Ads yang paling klasik dan sering kita temui.
- Keunggulan: Mudah dibuat, biaya relatif murah, bisa menjangkau audiens luas.
- Kelemahan: Rentan terkena “banner blindness” (pengguna mengabaikan iklan yang terlihat seperti banner).
Contoh: Iklan produk di situs berita atau blog dengan format gambar horizontal atau vertikal.
2. Responsive Display Ads
Iklan yang secara otomatis menyesuaikan ukuran, format, dan desainnya sesuai dengan tampilan website atau aplikasi tempat iklan tersebut muncul. Google biasanya yang mengatur kombinasi elemen iklan ini secara otomatis.
- Keunggulan: Lebih fleksibel, bisa menjangkau berbagai platform tanpa harus membuat banyak versi iklan.
- Kelemahan: Kontrol kreatif lebih terbatas karena Google yang menentukan kombinasi terbaik.
Contoh: Iklan yang muncul di berbagai ukuran layar, baik di desktop maupun mobile.
3. Native Ads
Iklan yang menyatu dengan tampilan dan gaya konten di suatu website, sehingga terlihat lebih organik dan tidak seperti iklan pada umumnya.
- Keunggulan: Tidak mengganggu pengalaman pengguna, lebih efektif dalam meningkatkan engagement.
- Kelemahan: Bisa kurang efektif jika tidak dikemas dengan baik atau kurang menarik secara visual.
Contoh: Rekomendasi artikel berbayar yang muncul di situs berita atau feed media sosial.
4. Video Ads
Iklan dalam bentuk video yang biasanya muncul di YouTube, website berita, atau aplikasi mobile. Bisa berupa skippable ads (bisa dilewati) atau non-skippable ads (tidak bisa dilewati dalam beberapa detik pertama).
- Keunggulan: Lebih engaging dibandingkan iklan statis, bisa bercerita lebih baik.
- Kelemahan: Biaya produksi lebih tinggi dibandingkan iklan gambar biasa.
Contoh: Iklan YouTube yang muncul sebelum video diputar.
5. Interactive & Rich Media Ads
Jenis iklan yang lebih kompleks dengan elemen interaktif seperti carousel, gamification, atau animasi HTML5. Iklan ini mengajak pengguna untuk berinteraksi dengan iklan, bukan sekadar melihatnya.
- Keunggulan: Lebih menarik dan engaging, meningkatkan kemungkinan pengguna berinteraksi.
- Kelemahan: Membutuhkan desain dan teknologi lebih canggih, biaya lebih mahal.
Contoh: Iklan yang meminta pengguna menggeser gambar, menjawab pertanyaan, atau bermain mini-game sebelum melihat promo.
💡 Mana yang paling efektif?
Tergantung pada tujuan kampanye dan target audiens kita. Kalau ingin meningkatkan awareness, Video Ads dan Native Ads bisa jadi pilihan. Kalau fokus ke konversi, Responsive Ads atau Rich Media Ads bisa lebih efektif.
Keunggulan dan Kelemahan Display Ads
Display Ads menawarkan banyak keuntungan untuk bisnis, tetapi juga memiliki beberapa kelemahan yang perlu diperhatikan. Yuk, kita bahas satu per satu!
Keunggulan Display Ads
- Menjangkau Audiens yang Lebih Luas
Display Ads memungkinkan kita menampilkan iklan ke jutaan pengguna di berbagai website dan aplikasi. Google Display Network sendiri mencakup lebih dari 90% pengguna internet global (Google, 2024). - Cocok untuk Meningkatkan Brand Awareness
Karena berbasis visual, Display Ads sangat efektif untuk membangun kesadaran merek. Studi menunjukkan bahwa iklan visual 80% lebih mudah diingat dibandingkan iklan berbasis teks (Forbes, 2023). - Menargetkan Audiens Secara Spesifik
Kita bisa menargetkan pengguna berdasarkan:- Demografi (usia, jenis kelamin, lokasi)
- Minat dan perilaku online (topik yang sering dicari, situs yang sering dikunjungi)
- Retargeting (menampilkan iklan ke orang yang sudah pernah mengunjungi website kita)
- Dapat Dikombinasikan dengan Strategi Retargeting
Salah satu kekuatan utama Display Ads adalah kemampuannya untuk menargetkan ulang (retargeting) pengguna yang pernah berinteraksi dengan bisnis kita. Studi dari WordStream menunjukkan bahwa retargeting bisa meningkatkan konversi hingga 70% lebih tinggi dibandingkan iklan biasa. - Format yang Beragam dan Fleksibel
Dari banner statis hingga video interaktif, kita bisa memilih format iklan yang paling sesuai dengan tujuan kampanye. Ini membuat Display Ads lebih fleksibel dibandingkan jenis iklan digital lainnya.
Kelemahan Display Ads
- CTR (Click-Through Rate) Lebih Rendah Dibandingkan Search Ads
Rata-rata CTR Display Ads hanya sekitar 0,35%, sedangkan Search Ads bisa mencapai 3-5% (WordStream, 2024). Ini karena Display Ads lebih bersifat awareness daripada direct response. - Bisa Dianggap Mengganggu oleh Pengguna
Sebagian pengguna merasa terganggu dengan iklan yang muncul tiba-tiba, terutama iklan pop-up atau video autoplay. Ini bisa menyebabkan banner blindness, di mana pengguna secara tidak sadar mengabaikan iklan di halaman web. - Rentan Terhadap Ad Fraud dan Klik Palsu
Menurut laporan dari Juniper Research, kerugian akibat ad fraud diperkirakan mencapai $100 miliar pada tahun 2024. Banyak bot atau jaringan fraud yang melakukan klik palsu untuk menghabiskan anggaran iklan kita tanpa hasil yang nyata. - Membutuhkan Desain yang Menarik Agar Efektif
Tidak seperti Search Ads yang hanya mengandalkan teks, Display Ads sangat bergantung pada desain visual. Jika desainnya tidak menarik, kemungkinan besar iklan akan diabaikan oleh audiens.
Apakah Display Ads Layak Digunakan?
Jawabannya: YA, jika digunakan dengan strategi yang tepat!
Meskipun memiliki beberapa kelemahan, Display Ads tetap menjadi salah satu strategi pemasaran digital paling efektif untuk membangun awareness dan menjangkau audiens baru. Kuncinya adalah memilih target yang tepat, menggunakan desain yang menarik, dan terus mengoptimalkan performa iklan.
Cara Membuat Kampanye Display Ads yang Efektif
Banyak marketers gagal memanfaatkan Display Ads karena mereka hanya sekadar “pasang iklan” tanpa strategi yang jelas. Padahal, agar Display Ads benar-benar efektif, ada beberapa langkah penting yang harus diperhatikan.
1. Menentukan Tujuan Iklan
Sebelum membuat kampanye, kita harus tahu apa yang ingin dicapai. Beberapa tujuan utama dalam Display Ads:
- Brand Awareness → Menjangkau lebih banyak orang dan meningkatkan kesadaran merek.
- Traffic Website → Mengarahkan lebih banyak pengunjung ke situs kita.
- Lead Generation → Mengumpulkan data calon pelanggan melalui form atau landing page.
- Sales & Konversi → Menargetkan audiens yang lebih siap untuk membeli produk atau layanan kita.
💡 Tips: Pilih tujuan yang spesifik dan sesuai dengan funnel pemasaran kita.
2. Menentukan Target Audiens yang Tepat
Targeting adalah kunci sukses dalam Display Ads. Beberapa opsi targeting yang bisa digunakan:
- Demografi → Usia, jenis kelamin, lokasi, pendapatan, dll.
- Interest-based Targeting → Menargetkan orang berdasarkan minat dan topik yang mereka sering cari.
- Behavioral Targeting → Berdasarkan perilaku online mereka, seperti situs yang sering dikunjungi.
- Contextual Targeting → Menampilkan iklan di halaman yang memiliki topik relevan dengan bisnis kita.
- Retargeting → Menargetkan kembali pengguna yang sudah pernah mengunjungi website kita sebelumnya.
💡 Tips: Gunakan kombinasi beberapa metode targeting agar lebih presisi.
3. Memilih Format Iklan yang Tepat
Setiap format iklan memiliki keunggulannya sendiri. Berikut beberapa pilihan yang bisa disesuaikan dengan tujuan kampanye:
- Banner Ads → Cocok untuk awareness & traffic
- Responsive Display Ads → Efektif untuk berbagai platform tanpa perlu banyak desain
- Native Ads → Lebih natural dan tidak terasa seperti iklan
- Video Ads → Paling cocok untuk storytelling dan meningkatkan engagement
- Rich Media Ads → Untuk kampanye interaktif yang lebih menarik perhatian
💡 Tips: Lakukan A/B testing untuk menemukan format iklan yang paling efektif untuk audiens kita.
4. Membuat Desain Iklan yang Menarik
Desain visual adalah faktor krusial dalam keberhasilan Display Ads. Pastikan elemen berikut diperhatikan:
- Gunakan Warna Kontras → Warna yang mencolok lebih mudah menarik perhatian.
- Pilih Gambar atau Video Berkualitas Tinggi → Hindari stok foto yang terlalu generik.
- Copywriting Singkat dan Jelas → Buat headline yang to the point & CTA yang kuat.
- Gunakan CTA yang Jelas → “Beli Sekarang”, “Coba Gratis”, “Daftar Sekarang”, dll.
💡 Tips: Menurut studi HubSpot, iklan dengan CTA yang jelas bisa meningkatkan CTR hingga 87% lebih tinggi.
5. Menentukan Anggaran dan Strategi Bidding
Agar iklan tetap efisien, kita harus mengatur anggaran dan bidding yang sesuai:
- CPC (Cost Per Click) → Bayar hanya jika ada yang mengklik iklan.
- CPM (Cost Per Mille) → Bayar per 1.000 tayangan (cocok untuk brand awareness).
- CPA (Cost Per Acquisition) → Bayar hanya jika terjadi konversi, misalnya pendaftaran atau pembelian.
💡 Tips: Mulai dengan CPC untuk traffic dan CPA untuk konversi. Lakukan uji coba untuk menemukan strategi bidding terbaik.
6. Melakukan Uji Coba dan Optimasi
Setelah iklan berjalan, jangan biarkan begitu saja. Lakukan monitoring dan optimasi secara rutin.
- A/B Testing → Uji berbagai headline, gambar, CTA, dan format iklan.
- Analisis Data Performa → Cek CTR, konversi, dan biaya per hasil.
- Refine Targeting → Hapus audiens yang kurang relevan, tingkatkan penargetan ke audiens yang lebih potensial.
💡 Tips: Studi dari WordStream menunjukkan bahwa pengiklan yang terus melakukan optimasi bisa meningkatkan ROI hingga 50% lebih tinggi dibandingkan yang tidak melakukan optimasi.
Rahasia Kampanye Display Ads yang Sukses
- Tentukan tujuan yang jelas.
- Gunakan strategi targeting yang tepat.
- Pilih format iklan yang sesuai dengan tujuan kampanye.
- Buat desain yang menarik dan CTA yang jelas.
- Tetapkan anggaran dan strategi bidding yang optimal.
- Lakukan testing dan optimasi secara berkala.
Dengan strategi yang tepat, Display Ads bisa menjadi senjata ampuh dalam pemasaran digital kita!
Platform untuk Menjalankan Display Ads
Untuk menjalankan Display Ads, kita punya banyak pilihan platform. Tapi, nggak semua cocok buat setiap bisnis. Pemilihan platform tergantung pada tujuan pemasaran, target audiens, dan anggaran. Yuk, kita bahas satu per satu!
1. Google Display Network (GDN) — Jaringan Iklan Terluas
- Jangkauan luas: lebih dari 2 juta situs, YouTube, dan aplikasi.
- Targeting canggih: demografi, minat, remarketing, dan placement spesifik.
- Integrasi mudah dengan Google Ads.
Kekurangan:
- Bisa boros kalau nggak dioptimasi dengan baik.
- Butuh waktu buat cari kombinasi targeting yang paling efektif.
💡 Cocok untuk: Bisnis yang ingin menjangkau audiens dalam skala besar dengan berbagai opsi targeting.
2. Meta Ads (Facebook & Instagram Audience Network) — Targeting Super Presisi
- Berdasarkan data pengguna yang sangat detail (usia, minat, kebiasaan, dll.).
- Cocok untuk retargeting dan brand awareness.
- Format visual menarik (carousel, story, reels, dll.).
Kekurangan:
- Konversi bisa lebih rendah dibanding Search Ads.
- Algoritma sering berubah, jadi butuh pemantauan rutin.
💡 Cocok untuk: Bisnis yang mengandalkan engagement tinggi dan visual yang menarik.
3. Microsoft Audience Network — Alternatif Murah Selain Google
- Biaya lebih murah dibanding Google.
- Menjangkau pengguna di Bing, Outlook, dan mitra Microsoft.
- Cocok untuk B2B dan audiens profesional.
Kekurangan: Jangkauan lebih kecil dibanding Google atau Meta.
💡 Cocok untuk: Brand yang ingin menjangkau audiens profesional dan B2B dengan biaya lebih efisien.
4. TikTok Ads — Iklan dengan Engagement Tinggi
- Ideal untuk audiens muda (Gen Z & Milenial).
- Format video pendek yang lebih engaging.
- Algoritma TikTok sangat kuat dalam menargetkan pengguna yang relevan.
Kekurangan:
- Konten harus super kreatif & mengikuti tren.
- Nggak semua niche cocok untuk TikTok.
💡 Cocok untuk: Brand yang berani eksplorasi iklan berbasis video pendek.
5. LinkedIn Ads — Pilihan Terbaik untuk B2B
- Bisa menargetkan berdasarkan jabatan, industri, dan pengalaman kerja.
- Cocok untuk lead generation dan brand awareness di dunia profesional.
Kekurangan:
- Biaya lebih mahal dibanding platform lain.
- Kurang efektif untuk bisnis yang nggak berbasis B2B.
💡 Cocok untuk: Brand yang menyasar audiens profesional dan bisnis.
6. Programmatic Advertising (DSP – Demand Side Platform) — Iklan Super Canggih
- Menggunakan platform seperti Google DV360, The Trade Desk, atau AdRoll untuk otomatisasi pembelian iklan.
- Bisa menjangkau lebih banyak situs dibanding Google Display Network.
- Targeting lintas perangkat dan platform.
Kekurangan:
- Butuh keahlian lebih untuk mengelola.
- Biaya lebih tinggi dibanding platform biasa.
💡 Cocok untuk: Brand besar yang ingin memanfaatkan teknologi iklan otomatis & premium inventory.
7. Native Advertising (Taboola, Outbrain, dll.) — Iklan yang Nggak Terlihat Seperti Iklan
- Iklan terlihat seperti konten organik, nggak terasa mengganggu.
- Cocok untuk content marketing & artikel promosi.
Kekurangan:
- Engagement bisa rendah kalau audiens nggak tertarik dengan kontennya.
- Nggak semua bisnis cocok menggunakan Native Ads.
💡 Cocok untuk: Brand yang mengandalkan strategi content marketing.
Mana yang Harus Dipilih?
Platform | Keunggulan Utama | Cocok untuk |
Google Display Network (GDN) | Jaringan terluas & opsi targeting beragam | Semua bisnis yang ingin jangkauan luas |
Meta Ads (Facebook & Instagram) | Targeting berbasis data pengguna | Brand yang mengandalkan visual menarik |
Microsoft Audience Network | Alternatif Google dengan biaya lebih murah | B2B & audiens profesional |
TikTok Ads | Engagement tinggi dengan format video pendek | Brand dengan audiens muda & konten kreatif |
LinkedIn Ads | Targeting profesional berdasarkan jabatan & industri | B2B & brand yang menyasar eksekutif bisnis |
Programmatic Ads | Otomatisasi iklan dengan targeting canggih | Brand besar dengan budget tinggi |
Native Ads (Taboola, Outbrain, dll.) | Iklan terlihat lebih alami | Content marketing & artikel promosi |
💡 Tips: Gunakan kombinasi beberapa platform untuk hasil yang lebih maksimal!
Kesimpulan
Display Ads adalah salah satu strategi periklanan digital yang bisa memberikan jangkauan luas, meningkatkan brand awareness, dan menarik audiens yang tepat. Dibandingkan dengan Search Ads, Display Ads lebih fokus pada visual dan impresi, sehingga cocok untuk bisnis yang ingin membangun kehadiran merek secara masif.
Apa yang Harus Diperhatikan?
- Targeting yang tepat: Pastikan iklan ditampilkan ke audiens yang benar, misalnya berdasarkan demografi, minat, dan perilaku online.
- Kreatif yang menarik: Gunakan gambar, video, atau animasi yang engaging agar iklan lebih efektif.
- Strategi bidding yang optimal: Pilih model pembayaran yang sesuai dengan tujuan kampanye (CPC, CPM, atau CPA).
- Pemantauan & optimasi: Selalu lakukan A/B testing dan evaluasi performa untuk meningkatkan efektivitas iklan.
Tips untuk Pemula yang Ingin Sukses dengan Display Ads
- Mulai dengan anggaran kecil dan uji berbagai format iklan.
- Gunakan retargeting untuk menjangkau kembali audiens yang pernah berinteraksi dengan bisnis kita.
- Jangan hanya mengandalkan satu platform – coba kombinasi beberapa platform untuk hasil lebih optimal.
- Pantau metrik utama seperti CTR, conversion rate, dan ROI untuk mengetahui efektivitas iklan.
Apakah Display Ads Cocok untuk Semua Bisnis?
✅ Cocok untuk: Brand yang ingin meningkatkan brand awareness, retargeting, dan menjangkau audiens baru.
❌ Kurang cocok untuk: Bisnis yang fokus pada pencarian aktif (Search Ads lebih efektif untuk ini).
Penutup
Display Ads bisa menjadi alat marketing yang powerful jika digunakan dengan strategi yang tepat. Mulailah dengan memahami platform yang tersedia, menyesuaikan strategi targeting, dan terus mengoptimalkan performa iklan.